Nyepi sebagai Refleksi Spiritual dalam Membangun Solidaritas Menuju Santi

Authors

  • Agung Adi Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang https://orcid.org/0009-0001-0090-6545
  • Ervantia Restulita IAHN Tampung Penyang Palangka Raya
  • I Gusti Agung Darmawan IAHN Tampung Penyang Palangka Raya
  • Anak Agung Istri Sugiandari IAHN Tampung Penyang Palangka Raya

Keywords:

nyepi, solidaritas sosial, sāntī, spiritualitas Hindu, globalisasi, Tri Hita Karana

Abstract

Nyepi merupakan hari raya umat Hindu yang tidak hanya memiliki dimensi ritual dan spiritual, tetapi juga memuat nilai sosial, ekologis, dan filosofis yang relevan dengan kehidupan masyarakat modern. Artikel ini bertujuan menganalisis Nyepi sebagai refleksi spiritual dalam membangun solidaritas sosial menuju terciptanya s?nt? atau kedamaian di tengah tantangan globalisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka melalui analisis terhadap teks-teks Hindu, literatur akademik, dan artikel ilmiah terbaru mengenai Nyepi, spiritualitas Hindu, solidaritas sosial, serta transformasi budaya religius di era modern. Hasil kajian menunjukkan bahwa Nyepi mengandung nilai pengendalian diri, harmoni sosial, kesadaran ekologis, dan integrasi spiritual yang dapat menjadi modal sosial dalam memperkuat kohesi masyarakat Hindu. Spirit Nyepi lahir dari sejarah Tahun Baru Saka yang menekankan perdamaian dan penghargaan terhadap pluralitas setelah konflik antar suku di India. Dalam konteks kontemporer, pelaksanaan Catur Brata Penyepian menjadi bentuk resistensi terhadap budaya konsumtif, individualisme, dan krisis ekologis akibat globalisasi. Nilai-nilai Nyepi juga berkaitan dengan konsep Tri Hita Karana yang menekankan harmonisasi hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Artikel ini menegaskan bahwa Nyepi bukan sekadar ritual tahunan, melainkan mekanisme reflektif untuk memperkuat solidaritas sosial dan membangun kesadaran spiritual kolektif menuju kehidupan yang harmonis dan damai.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Auliya, A. S., Nadera, S., & Aini, I. N. (2025). Studi Kualitatif tentang Dampak Dimensi Psikologis dan Spiritual dalam Puasa. Khulasah Islamic Studies Journal | E-ISSN, 07(1), 120–136. https://doi.org/10.55656/ksij.v7i1.272

Durkheim, E. (1992). The Elementary Forms of the Religious Life (Inyiak Ridwan Muzir). Yogyakarta: IRCiSOD.

Durkheim, E. (1997). Pembagian Kerja dalam Masyarakat. Terjemahan Imam Baehaqi. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Eka Putri, N. M. F., Prawitasari, M., Dewicca Fatma Nadilla, & Rochgiyanti. (2025). The Ogoh-Ogoh Tradition in Maju Sejahtera Village, Karang Bintang Subdistrict, Tanah Bumbu Regency (1985–2024). JURNAL PENDIDIKAN IPS, 15(3), 655–667. https://doi.org/10.37630/jpi.v15i3.3027

Fathoni, T. (2024). Konsep Solidaritas Sosial dalam Masyarakat Modern perspektif Émile Durkheim. Journal Of Community Development and Disaster Management, 6(2), 129–147. https://doi.org/10.37680/jcd.v6i2.6402

Jumaidiyah. (2026). Transformasi Nilai-Nilai Sosial Budaya dalam Masyarakat Modern sebagai Dampak Globalisasi dan Perubahan Sosial. Journal of Islamic Social and Cultural Studies, 1(1), 1–15.

Kertisari, N. N., Supartini, N. M. L., Sulastri, N. K., Tantri, N. N., & Widiastuti, N. K. (2025). Integrasi Nilai-Nilai Agama Hindu Dalam Pendidikan Karakter di SDN 2 Suranadi. Widya?: Jurnal Ilmu Pendidikan, (Spesial Isu Pendidikan), 227–242. https://doi.org/https://doi.org/10.63577/wid.vi.185

Lestari, R. N., & Achdiani, Y. (2024). Pengaruh Globalisasi Terhadap Gaya Hidup Individualisme Masyarakat Modern. SOSIETAS, 14(2), 121–132. https://doi.org/10.17509/sosietas.v14i2.70149

MBA-HK. (2005). Panaturan. Palangka Raya: Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (STAHN-TP).

Narti, I. A. (2024). Teologi Tri Hita Karana dalam Praktik Kehidupan Sosial-Ekologis Masyarakat Hindu Bali. Jurnal Agama Hindu II, 5(1), 31–41.

Sari, I. P. (2025). Satu Suro dan Songkran: Makna Simbolik dan Religius Tahun Baru dalam Perspektif Budaya Jawa dan Thailand. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities, 6(02), 72–90. https://doi.org/10.22515/isnad.v6i02.12487

Sepi Wahyuni, N. W., Suastika, I. N., Adhi Utami, A. A. I., Yanti, P. R., Apriani, N. K., Purnama Dewi, N. P. S. W., … Sucitra, N. K. A. (2025). Revitalisasi Nilai Nilai Hindu dalam Tradisi Nyepi; Strategi Ketahanan Budaya dan Spiritual di Tengah Krisis Global. Ganesha Civic Education Journal, 7(2), 175–183. https://doi.org/10.23887/gancej.v7i2.6208

Septiani, P. S., Kariarta, I. W., & Sunampan Putra, I. W. (2025). Esensi Nyepi Adat di Desa Adat Banyuning Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng (Kajian Teologi Hindu). Jnanasiddhanta?: Jurnal Teologi Hindu, 6(2), 9–22.

Sharma, D. (2015). Religious Pluralism in Ancient India: Unravelling the Tapestry of Coexistence and Cultural Exchange. International Journal of Research and Analytical Reviews, 2(4), 437–444. https://doi.org/10.5281/zenodo.10813011

Somvir. (2005). 108 Mutiara Weda. Denpasar: PANAKOM Publishing.

Surpi, N. K. (2022). Nyepi and the Efforts to Save the Environment. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 1111(1), 1–6. Depok-Indonesia: Institute of Physics. https://doi.org/10.1088/1755-1315/1111/1/012084

Sushanti, N. L. P. I. (2024). Pendidikan Kesadaran Ligkungan Berbasis Ajaran Wana Kertih dalam Tradisi Hindu. Widyalaya: Jurnal Ilmu Pendidikan, 5(2), 222–229.

Sutrisno, M. (2013). Krisis Peradaban. Yogyakarta: Kanisius.

Titib, I. M. (1988). Pedoman Pelaksanaan Nyepi. Denpasar: Pemda TK. I Bali, Proyek Penyuluhan dan Penerbitan Buku Agama.

Warta, I. N. (2017). Antusias Umat Hindu dalam Pelaksanaan Upacara Tawur Kesangan Nasional di Candi Prambanan Saka 1939. Widya Aksara?: Jurnal Agama Hindu, 22(1), 1–2. https://doi.org/https://doi.org/10.54714/widyaaksara.v22i1.15

Whitehead, A. N. (2009). Mencari Tuhan Sepanjang Zaman: Dari Agama Kesukuan Hingga Agama Universal. Bandung: Mizan.

Published

2026-07-29